Pernik-Pernik Lalu Lintas Kota Jakarta (2)

Management Macet.

Traffic Jam-2

Setiap hari kemacetan Kota Metropolitan Jakarta sebagai akibat semakin bertambahnya kendaraan, sedangkan petumbuhan ruas jalan sangat kecil dan bahkan lebih cenderung dipersempit dengan pembangunan jalur khusus yang kita kenal namanya Busway.

Pembangunan jalur khusus busway seharusnya tidak menggunakan jalur yang sudah ada, dan jalur khusus ini seharusnya dibangun pada jalur baru walaupun memerlukan dana yang tidak sedikit. Jalur khusus harusnya ditempatkan pada lahan baru dengan membebaskan lahan yang diperlukan atau dengan konstruksi jalan layang atau subway.

Dengan kondisi metropolitan yang ada saat ini, timbul satu pertanyaan; Apakah Kota Jakarta sudah tidak punya master plant pembangunan yang berkesinambungan serta berkelanjutan untuk menangani infrastruktur transportasi darat, sungai, penanggulangan banjir dan tata bangunan gedung ? Jika master plant tata kota jangka panjang diabaikan, dapat dipastikan kota Jakarta akan semakin semrawut yang berdampak ke daerah sekitarnya seperti Depok, Tangerang, Bekasi dan Bogor.

Penanganan Jabodetabek harus terpadu serta terintegrasi satu sama lainnya dengan melepaskan diri dari berbagai macam perbedaan geografis sehingga dapat tercipta infrastruktur publik yang ideal untuk segala aspek kebutuhan masyarakat.

Pembangunan jalur khusus yang telah dilakukan di Jakarta dengan cara mempersempit ruas jalan yang ada seperti jalan metro pondok indah, jalan warung buncit, jalan raya bogor dan jalur dari blok M – Kota, setiap hari tak terhindarkan dari kemacetan.

Kemacetan semakin merata setiap ruas jalan, dan pembangunan busway tidak menjamin kemacetan yang terjadi akan mereda setelah koridor-koridor jalur busway selesai dibangun, sehingga transportasi missal itu hanya berfungsi untuk mempertahankan pengguna yang selama ini menggunakan angkutan umum non busway karena efektifitas buswaypun masih rendah.

Dapat diprediksi bahwa upaya pemerintah provinsi DKI Jakarta tidak akan mampu mengurangi jumlah pengguna kendaraan pribadi, untuk berpindah menggunakan busway. Penggunaan kendaraan pribadi, sangat tidak efesien karena ruang kendaraan lebih banyak digunakan sendirian, akibatnya menjadi penyumbang kemacetan.

Berdasarkan hasil survey instran yang disiarkan Harian Kompas tanggal 5 Nopember 2007 menunjukkan bahwa sebagian besar penumpang busway transjakarta berasal dari:

· Angkutan umum lain sebesar 42,7 %.

· Penumpang bus non AC: 22,3 %.

· Mikrolet atau angkot: 14,2 %.

· Bus Patas: 14,2 %.

· Taksi: 2,7 %.

· Kendaraan Pribadi hanya: 13,3 %.

· Pengendara sepeda motor: 7,5 %.

Dari hasil survey tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pemakai kendaraan pribadi masih enggan untuk menggunakan busway, oleh karena itu kemacetan tetap akan menjadi kondisi jalan di Jakarta dan sekitarnya yang harus di manage dengan lebih serius.

Dengan rendahnya efektivitas bus trans Jakarta terjadi dikarenakan:

· Pola pemukiman yang tidak teratur.

· Penggunaan jalan secara bersamaan.

· Banyaknya persimpangan.

· Pada halte-halte tertentu harus antri berlama-lama.

· Jadwal datang dan berangkat antar bus terdapat ketidakpastian.

· Jumlah bus yang masih kurang.

· Trans Jakarta belum menarik bagi yang terbiasa menggunakan kendaraan pribadi.

Yang jelas jaur busway yang dibangun sejak tahun 2006 sampai saat ini dengan cara mengambil jalur yang sudah ada, sehingga jalur kendaraan yang selama ini sudah macet diperparah lagi dengan tindakan penyempitan untuk digunakan sebagai jalur khusus.

Seharusnya busway dibangun dengan mengupayakan lahan baru atau dibuat jalan layang atau bawah tanah walaupun itu mahal dan hal tersebut harus sudah menjadi master plant DKI Jakarta, juga segera mempercepat pembangunan monorail.

Tata ruang DKI Jakarta saat ini jika dilihat secara kasat mata seperti tidak ada Master Plant yang berkesinambungan dan conection road antar wilayah seperti amburadul.

Untuk wilayah pelabuhan seperti pembangunan jalur trans Jakarta di Jakarta Utara yang mengakibatkan jalur distribusi barang masuk dan keluar pelabuhan Tanjung Priok dari jalan Yos Sudarso dan jalan Enggano semakin macet. Akibatnya biaya operasional distribusi barangpun harus ditambah, karena waktu tempuh semakin lama, jika tidak macet butuh waktu 30 menit, maka dengan terjadinya macet harus ditempuh seama 1,5 jam atau lebih.

Kemacetan membuat frekuensi barang yang dapat diantarkan menjadi berkurang dan lagi akibat keterlambatan tersebut pabrik pemilik barang akan merasa rugi besar, sebab akibatnya berujung pada keterlambatan produksi di pabrik.

 

Bersambung ……………!!!!!

Advertisement

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.